XII IPA 1, kelas ini adalah kelas terakhir gue di SMA. Yah gue masuk dikelas yang katanya "kelas unggulan", ya seperti disekolah lainnya, kalo lo masuk "kelas unggulan", lo bakal ngerasain 3 tahun bersama orang yang sama. Ya, 3 tahun dengan orang yang sama. Banyak orang yang bilang bakal bosen ketemu sama orang yang itu itu aja, emang bener sih, tapi gak semembosankan yang orang kira.
Ok, gue mau flashback dari kelas X.1. Sebenernya gu ini bukan murid kelas X.1, gue ini murid pindahan dari kelas lain. Awalnya gue minder banget masuk di kelas X.1, gimana enggak, kelas ini isinya murid-murid yang pinter semua men, lah gue? -_-. Tapi lama kelamaan gue mulai membaur dan sepertinya gue udah diterima dikelas ini. Awal-awal semester gue nyaman banget dikelas ini, kami mulai mengenal satu sama lain, saling sharing bareng, kumpul-kumpul dirumah temen, pokoknya masih asik deh. Tapi lama kelamaan kami mulai nunjukin ego masing masing, kadang karena hal sepele kami adu mulut dikelas. Tapi kami coba tetep menjaga kekompakan yang udah kami pupuk dari MOS.
Ditahun kedua di SMA, gue masuk dikelas XI IPA 1, orangnya ya tetep sama, cuma 2 temen kami milih masuk ke IPS, tapi masuk 3 temen baru kami, jadilah kelas kami dihuni 41 kepala yang sangat berbeda sifat satu sama lain. Mungkin dikelas inilah puncak dari perselisihan kami. Kami mulai saling mengejek, saling menghujat, pokoknya beda banget kayak kelas X. Dikelas ini juga kami terpecah, ada yang buat kelompok sendiri-sendiri dan seperti menutup kepada orang sekitar, tak jarang "mereka mereka" inilahh yang berbeda pendapat dengan anak kelas. Tapi mau tak mau, suka tak suka, yah inilah kelas kita, kalo gak ada perselisihan bukan kelas namanya.
Tahun kedua yang agak membosankan pun sudah berlalu, dan kami naik kelas dan masih sengan orang-orang yang sama. Kami masuk dikelas XII IPA 1. Mungkin sebagian penghuni merasa sudah jenuh dan bosan dengan orang-orang dikelas ini, ditambah lagi wali kelas kami adalah Mom Latifah, guru yang amat sangat sangat sangat disiplin, mungkin karena tingkat kedisiplinannya yang melebihi batas itulah dia dianggap guru terkiller oleh murid di SMA gue. Awalnya sih gue pikir disiplin wali kelas kami ini masih bisa diterima, tapi lama kelamaan gue pikir disiplin wali kelas kami ini agak gak bisa diterima oleh anak
Ditahun terakhir kami inilah, kami mulai sangat kompak, semua event disekolah yang melibatkan kelas kami ikuti dan berambisi untuk menang, karena ditahun sebelumnya kami jarang menang. Event yang gak bakal kami lupain adalah waktu musikalisasi pusi. Saat itu kami selalu latihan tiap pulang sekolah, dan menurut kami, penampilan kami gak bakal ngecewain para juri. Tapi sesaat sebelum kami tampil, dikarenakan emosi yang sudah sangat memuncak, kejadian yang sangat tak diduga itu terjadi. Kelas kami mulai panik dan suasana kelas kami sangat chaos, ada yang pingsan, ada yang histeris, ada yang nangis, dan ada yang tangannya sampai berdarah. Tapi mau gimanapun kelas kami harus tampil. Dan hasilnya kami menang. Rintangan yang kami lewati bersama akhirnya menghasilkan akhir yang sangat manis. Karena kejadian itu, kami mulai memperbaiki kekompakkan kami yang lagi-lagi agak retak, dan perlahan membaik.
Yah, memang amat sangat banyak kenangan kita di SMA ini, gue gak bakal lupa sama kalian dan semua kenangan kita, semoga kalian juga begitu. Walupun gue gak begitu bermanfaat dikelas, tapi gue tetep senang udah menjadi 3 tahun dihidup kalian. Kalian adalah keluarga gue yang kedua dan kelas adalah rumah gue yang kedua.
Terima kasih atas semua kenangan kita, dan maaf jika gue pernah nyakitin perasaan kalian.
WE ARE GOLDEN !!
Keren! Kunjungi blog saya ya wapriliana.blogspot.com :) Hahahaha
BalasHapus